Sabtu, 07 Januari 2012

Kasih yang Pamrih

Kasih manusia adalah kasih yang penuh pamrih.

Janganlah kaget bila pasangan anda berubah karena itu adalah kasih manusia, tapi selalu yakinlah bahwa KASIH TUHAN YESUS tidak pernah berubah terhadap anda.

TUHAN YESUS seolah berpacaran dengan kita manusia yang jatuh yang mana kita selalu berubah-ubah.. TUHAN Yesus sudah berikan besar kasih setiaNya tapi kita tidak seperti yang dahulu setelah dibaptis. tapi bila kita baca firmanNya DIA tetap pendirianNya pada kita selalu mengasihi dan memberikan yang terbaik.

Saran: Percayalah pada TUHAN YESUS anda akan dimampukan menyerupai karakterNya yang penuh kasih walau pacar anda berubah tidak seperti dahulu janganlah kasihmu berubah terhadapnya sehingga dia akan melihat KASIH TUHAN YESUS hidup didalammu.

Minggu, 31 Juli 2011



Dulu ketika balita segemuk ini, Abang (kanan) aja kalah berat badannya. Kapan ya bisa gemuk lagi seperti dulu.?! hahaha.....




Segelintir Masalah Hidup-ku
Tepat tanggal 14 mei 2011 aku kembali lagi telah malakukan kesalahan yang telah merugikan diriku secara pribadi. Awalnya aku tidak ingin melakukan sebuah kesalahan, namun karena hal yang mendesak yang menyangkut dengan tugas sekolahku, aku terpaksa keluar lingkungan seminari tanpa sepengetahuan pamong atau bisa dikatakan cabut. Aku melakukan hal ini karena tugas ini cukup penting dan tugas ini akan dijadikan nilai ulangan harian. Sejak awal memang berat utuk aku melakukannya, namun karena tugas yang belum selesai itu dan juga computer yang sudah tidak boleh dipakai lagi karena sudah waktunya dimatikan, maka aku dengan berat hati melakukan hal yang dianggap menyeleweng tersebut.
Dalam hati aku sadar penuh bahwa itu salah, namun karena keadaan yang memaksa maka akupun telah lalai melakukan kesalahan vatal tersebut. Dari hal ini aku merasa semakin disadarkan akan pentingnya sebuah kedisiplinan. Memang sebuah kedisiplinan itu penting untuk mencapai kesuksesan, namun bagiku, disiplin itu tidaklah harus patuh sepenuhnya terhadap sebuh peraturan. Bila disiplin ditegakan malalui segala aturan dan prosedur, maka itu merupakan suatu kesalahan yang besar. Jika itu yang terjadi, maka itu tidaklah melahirkan suatu kedisiplinan melainkan ketakutan atau kekuatiran dalam diri. Takut tidak berarti disiplin dan sebaliknya, disiplin pun tidak seharusnya menjadi takut.
Karena hal ini aku sempat merasa cemas dan juga takut akan sanksi yang akan diberikan padaku karena sebelumnya aku juga sudah pernah melakukan kesalahan yang mengakibatkan aku mendapatkan Surat Peringatan yang pertama. Dan ternyata rasa takut yang aku rasakan pun benar terjadi. Bebanku akan surat peringatan akirnya bertambah satu lagi dan aku harus bisa menerima semua ini karena keterpaksaanku untuk cabut mengerjakan tugas.
Aku berfikir bahwa disiplin itu seharusnya tidaklah memberikan hukuman atau ganjaran apapun, akan tetapi menegakan norma dan juga meneduhkan jiwa sebagai sinyal agar seseorang atau aku yang melakukan kesalahan dapat dapat menjalankan sesuatu yang lebih baik akan norma yang telah ditanamkan kepadaku. Aku sadar, dan inilah pahitnya segeluntir kehidupan yang terjadi pada diriku yang sekarang ini. Namun, meski demikian, inilah kenyataan yang harus aku hadapi sebagai seorang lelaki, yaitu mempertanggung jawabkan segala yang telah kuperbuat ini dan semoga dengan hal ini aku semakin jera dan tidak mengulanginya lagi.

Minggu, 27 Februari 2011

Panggilan yang dari Dia dan Melalui Dia

Aku ada, tercipta utuh baik adanya sebagaimana dengan apa yang telah dikehendakinya terhadap diriku. Itu semua terjadi karena Dia hadir dan menciptakan sebuah karya yang ajaib bagi hidupku.
Kegiatan rekoleksi sudah kerap kali aku ikuti. Namun, kali ini tepat pada hari sabtu tanggal 26 – hari minggu tanggal 27 februari, kami satu komunitas Seminari Wacana Bhakti mengikuti kegiatan rekoleksi yang dibawakan oleh para frater dan romo dari ordo Xaverian. Rekoleksi diawali dengan olah raga bersama dengan para frater. Setelah itu kami diperkenankan untuk potus serta mandi sore terlebih dahulu.
Ketika sesi dimulai, salah seorang frater mencoba untuk mensharingkan tentang bagaimana tentang panggilan hidupnya hingga kini ia mampu menjadi seorang frater Xaverian. Setelah mendengar segeluntir kata-kata darinya, ternyata memang benar bahwa sesuatu hal apapun itu tidak akan pernah untuk dapat dianggap selesai, seperti halnya seorang pendaki gunung yang pasti masih memiliki banyak rintangan dan masih banyak lagi pendakian diri yang harus dilakukan.
Rekoleksi yang bertujuan untuk menguatkan panggilan ini sungguh bermanfaat bagiku, karena dari sini aku dapat memetik buah-buah rohani yang nantinya dapat kukembangkan bagi kelangsungan kehidupanku dikemudian hari. Memang setiap manusia memiliki berbagai karakter yang tentunya berbeda-beda, namun dari berbagai karakter ini aku juga harus dapat berusaha mencari cara untuk dapat mengembangkan karater tersebut agar nanti dapat berguna juga bagi siapa saja.
Semua manusia merupakan potensi panggilan dalam kehidupannya masing-masing, begitu juga dengan aku. Hal tersebut dikatakan demikian karena aku dan kita semua dapat berkembang. Aku memang dapat berkembang sebagaimana mestinya aku harus mengembangkan pribadiku sematang mungkin. Perkembangan tentu butuh proses dan aku pun tentu juga harus membuat hatiku untuk tetap terbuka agar nantinya aku dapat mencapai serta menemukan sebuah kehendak, yaitu kehendak Allah yang menghidupkan.
Dalam mengembangan potensi pada diriku, aku juga sangat membutuhkan sebuah relasi yang yang kokoh agar dapat membimbing jalan panggilanku. Relasi dengan sesama manusia memang penting, namun relasi tersebut tidaklah cukup bila aku belum dapat memiliki sebuah relasi yang erat dengan Yang Maha Kuasa. Aku sadar, karena hanya dari Dia dan melalui Dialah aku dapat tumbuh serta berkembang dengan baik adanya. Namun, melalui potensi diriku ini aku sebisa mungkin tidak akan mengembangkan potensiku untuk menjadi batu sandungan bagi temanku, justru aku ingin menjadi berkat yang benar-benar berguna bagi sesamaku dalam menapaki sebuah panggilan dalam sebuah komunitasku ini.
Melalui tekat dan kenginanku dari awal yang telah aku tanam, aku mencoba untuk tetap teguh terhadap panggilanku sebagai seorang seminaris. Aku memang telah dicipta, di panggil, dan pada akhirnya aku pun akan berkarya untuk diriku sendiri serta sesama. Dalam berkarya aku memang memiliki kebebasan, namun jika aku menyalahgunakan kebebasan itu, nanti pada akhirnya akan menjadi cambuk pula bagi diriku. Rencanaku memang tidak sejalan dengan rencana-Nya, namun bagiku rencana-Nya jauh lebih baik dan mampu membuat diriku manjadi baik adanya pula.

Selasa, 22 Februari 2011

Reflrksi Kebebasan dalam Mencari Nafkah

Waktu berlalu sebagaimana seharusnya ia berlalu. Demikian juga halnya dengan kehidupan manusia. Bergulir lambat, tetapi pasti, penuh hasrat, serta penuh dengan pengalaman yang seolah-olah bersarat. Seperti yang telah kita ketahui bahwa kebebasan merupakan suatu keberadaan kita yang tidak dibatasi atau keadaan yang tanpa harus adanya penghalang serta penghambat apapun sehingga pada akhirnya kita sebagai manusia mampu melakukan apapun yang sekiranya kita mau lakukan, baik itu dalam kehidupan pribadi kita ataupun dalam hidup sosial dengan masyarakat lainnya.

Kita sebagai manusia pada dasarnya memilii sebuah hasrat untuk mencapai sebuah kesempurnaan pada diri kita. Dari hasrat kita yang kuat ini, maka akan mudah timbul juga rasa keinginan untuk dapat bebas akan suatu hal yang dapat menguntungkan dirinya secara pribadi. Banyak dari kita yang sudah mampu memikirkan untuk kehidupan di masa depannya memiliki keinginan untuk dapat bebas dalam menjalankan pekerjaannya atau dalam hal mencari nafkah. Banyak cara yang dapat kita lakukan agar kita dapat memperoleh hasil dari jerih payah yang telah kita lakukan. Namun, seringkali kini kita semakin dibatasi dalam mendapatkan pekerjaan yang kita mau. Seperti cotnoh, untuk dapat masuk kesebuah perusahaan minimal kita harus memegang ijasah S1, sementara masyarakat masih banyak yang belum dapat mangenyam pendidikan sampai satinggi itu.

Sebenarnya kalau kita benar-benar orang yang kreatif, banyak pekerjaan yang dapat kita lakukan untuk dapat meraup hasil atau mendapatkan nafkah untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, aku merasa dalam melakukan kegiatan tersebut faktor lingkungannya juga dapat mempengaruhi mereka sehingga mereka tidak mampu mendapatkan pekerjaan yang lebih layak atau mendapatkan pekerjaan yang mampu meraih upah yang lebih banyak lagi dari apa yang sebelumnya ia telah dapatkan.

Dari hal ini aku dapat memetik makna yang terpandam bahwa kehidupan ini memang hanyalah satu kali dan dari kehidupan ini kita harus dapat mengoptimalkan segala usaha yang ingin kita lakukan. Bagiku, cukuplah penderitaan yang mampu menjadikan seseorang semakin manusiawi dan cukup pengharapan untuk menjadikan orang tersebut bahagia. Masa depan yang gemilang akan mudah kita raih jika kita juga bertanggung jawab atas kebebasan yang telah kita terima.

Senin, 10 Januari 2011


Become a "Missionary"

At the opening of Gonzaga education fair 2010, apparently I am quite interested in this activity. Through this activity, I could dig up or find more information about the existing universities. From various universities, I prefer the booth CICM (Conggregatio Imaculati Cordis Mariae) because I feel drawn to become a priest.

I am interested in CICM community because if I had become a priest, I can serve the Christians in the church. I am very happy if someday I could become a missionary priest. Even being a missionary must have a mission and I also will be prepared to undergo the mission the mission.

Mission The most I like is to go through my pastoral ministry has received together with small rural communities. To be able to undergo all of these are not easy and requires a long time. If you become a missionary who worked at ground missions, I personally have to be ready and willing, if one day I was transferred from origin to other countries. If I was a priest CICM, I like to work in the interior because I want to introduce and develop the teaching of Christ to them, also not yet know Christ or who already know Christ. Working in the interior do not like hard work in the city, but surely there will be loads alias works of this proclamation. Running missions in the interior is very interesting, because I can get closer to the people whose lives are far more suffering than me.

CICM brother told me to not worry about going to the mission of a missionary. All we want to do definitely need to process and all the preparations will be trained by a priest for the future to become a missionary and to work properly. Hearing the brief explanation, I am more interested to join the CICM order to be able to live together with other seminarians CICM. Now I have formed myself into a good CICM missionaries.

Kamis, 02 Desember 2010


Beautiful Girl


Beautiful girl, wherever you are
I knew when I saw you, you had opened the door
I knew that I’d love again after a long, long while
I’d love again.

You said “hello” and I turned to go
But something in your eyes, left my heart beating so
I just knew that I’d love again after a long, long while
I’d love again.


It was destiny’s game
we love finally came on
I rushed in line only to find
That you were gone.

Whenever you are, I fear that I might
Have lost you forever like a song in the night
Now that I’ve loved again after a long, long while
I’ve loved again.


Beautiful girl, I’ll search on for you
‘Til all of your loveliness in my arms come true
You’ve made me love again after a long, long while
In love again
And I’m glad that it’s you…….
Hmm, beautiful girl.


Selasa, 16 November 2010

Jumat, 06 Agustus 2010

Inspirasi : Pendidikan Untuk Anak-anak

Jika anak-anak hidup dengan kritikan, mereka belajar untuk mengutuk.
Jika anak-anak hidup dengan permusuhan, mereka belajar untuk melawan.
Jika anak-anak hidup dengan rasa takut, mereka belajar untuk menjadi memprihatinkan.
Jika anak-anak hidup dengan belas kasihan, mereka belajar untuk merasa menyesal sendiri.
Jika anak-anak hidup dengan olokan, mereka belajar untuk merasa malu.
Jika anak-anak hidup dengan kecemburuan, mereka belajar untuk merasa iri hati.
Jika anak-anak hidup dengan rasa malu, mereka belajar untuk merasa bersalah.
Jika anak-anak hidup dengan semangat, mereka belajar percaya diri.
Jika anak-anak hidup dengan toleransi, mereka belajar kesabaran.
Jika anak-anak hidup dengan pujian, mereka belajar apresiasi.
Jika anak-anak hidup dengan penerimaan, mereka belajar untuk cinta.
Jika anak-anak hidup dengan persetujuan, mereka belajar seperti itu sendiri.
Jika anak-anak hidup dengan pengakuan, mereka belajar bagus untuk memiliki tujuan.
Jika anak-anak hidup dengan berbagi, mereka belajar kedermawanan.
Jika anak-anak hidup dengan kejujuran, mereka belajar sebenarnya.
Jika anak-anak hidup dengan keadilan, mereka belajar keadilan.
Jika anak-anak hidup dengan baik-baik, mereka belajar menghargai.
Jika anak-anak hidup dengan keamanan, mereka belajar untuk memiliki iman dalam diri mereka sendiri dan orang-orang di sekitar mereka.
Jika anak-anak hidup dengan keramahan, mereka belajar di dunia adalah tempat yang bagus untuk hidup.

oleh Dorothy Law Nolte (1924 – 2005)

Sabtu, 26 Juni 2010

" Separuh Hati "
Marsel Dimas S. A.

Sejenak aku mulai berpijak
menaruh kaki mulai menapak
tidak dapat lagi aku merangkak
mengikuti hari yang kian beranjak

Kesahku kini tiada terungkap
isak tangis semakin manggelegap
diiringi cahaya begitu gemerlap
air mata jatuh meluap

Kukirim pesan terbalas
tetapi dengan perasaan culas
dalam benak namun terlintas
bahwa ini tidaklah tulus dan ikhlas

Aku bagai air keruh
kian ricuh dan bergemuruh
dalam hati aku tersentuh
ternyata kamu, hanya menaruh hati separuh

Rabu, 09 Juni 2010

“PENGAMEN JALANAN” TIDAK PERLU DISINGKIRKAN


Krisis merupakan salah satu masalah yang sampai saat ini masih kita hadapi bersama. Perlu kita ketahui bahwa sudah lebih dari 10 dasawarsa masyarakat kita banyak yang menjalani hidupnya masih serba kekurangan, khususnya masyarakat Golongan Menengah Bawah dan Masyarakat kecil. Kalau lebih ditelusuri lagi, lebih dari 70% masyarakat Indonesia yang hidupnya masih berkekurangan atau tidak sejahterah.

Ironisnya, masih saja banyak penduduk miskin kita yang masih mengharapkan kesejahteraan-nya dapat dengan segera diperbaiki oleh pemerintah, padahal kita tahu sendiri bahwa keadaan keuangan pemerintah tidaklah selalu dalam keadaan baik.
Akibat krisis ini akhirnya kita dapat melihat sendiri bahwa akibat dari krisis dalam kehidupan-nya, maka secara alamiah biasanya akan muncul suatu kemampuan yang “unik” dari masyarakat itu sendiri untuk “menyembuhkan” dirinya sendiri dari keadaan krisis tersebut. Maka, tidak jarang kini kita dapat melihat masyarakat yang menjadikan dirinya sebagai “penyanyi jalanan” atau sering kita sebut dalam kehidupan sehari-hari dengan istilah “pengamen”.

Pengamen, yang selalu dapat kita jumpai tiap hari di jalanan,buskota, rumah makan, sampai kereta api, seperti menempati posisi yang tidak menguntungkan pada kelas sosial masyarakat. Di jakarta ini, jumlah pengamen sudah lebih dari seribu orang pengamen jalanan. Bagi mereka, pekerjaan mereka sama mulianya dengan profesi lainnya. Dan oknumlah yang melahirkan konotasi negatif dari pengamen. Sama seperti konotasi negatif bagi polisi, pejabat, pengusaha, seniman, dokter, guru yang diimbaskan oknum. Namun sebagian masyarakat seperti tidak mau tahu, profesi ini tetaplah bernada miring, fals. Yang mereka tahu, pengamen adalah kumpulan manusia malas, pemaksa, dan amat mengganggu.

Akan tetapi, para pengamen jalanan ini banyak yang tidak setuju dengan cap-cap buruk yang dilontarkan oleh masyarakat sekitar tersebut. Mereka tidak mau disebut sebagai pemalas karena jelas terlihat bahwa mereka bekerja keras dengan bernyanyi dari satu tempat ke tempat lain dan terkadang mereka pun bekerja tidak kenal cuaca. Jadi, meskipun panas terik ataupun hujan, mereka tetap saja mengamen demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Mereka pun sebagai pengamen juga tidak mau disebut sebagai pengganggu karena menurut mereka kita semua sama, sama dalam arti yaitu sama-sama melakukan pekerjaan dan demi tujuan yang sama meskipun caranya berbeda.

Sebut saja Bagus, salah seorang pengamen jalanan yang terkadang kesal melihat oknum yang mengaku sebagai pengamen, lalu oknum tersebut meminta uang dengan paksa kepada penumpang. Melihat hal tersebut, beberapa bulan yang lalau, ia bersama dengan kelompoknya tidak segan-segan untuk memberi pelajaran kepada oknum tersebut. Keberadaan orang-orang semacam itu memang meresahkan, bukan saja meresahkan penumpang tapi juga meresahkan para pengamen ‘asli’ yang identitasnya merasa tercoreng. Akibatnya masyarakat mengeneralisasi profesi pengamen.

Padahal sekarang ini tak sedikit pengamen yang berhasil menjadi penyanyi terkenal, sebut saja Iwan Fals, Didi Kempot, Angel Mama Mia, dan yang paling hot, Januarisman atau Aris, yang sekarang menjadi kandidat kuat pemenang Indonesia Idol 2008. Mereka adalah orang-orang yang berhasil menaklukan kerasnya jalanan Ibukota. Dan yang jelas ini juga bukti, bahwa stereotip pemalas, tukang minta-minta dan pemaksa adalah tidak sepenuhnya benar dialamatkan kepada mereka. Diantara mereka ada yang benar-benar berjuang setengah mati hanya dem i menyambung hidup.

CINTA

Apakah dalam menjalani hidup itu harus dengan cinta?kadang cinta mebuat kita tak berhenti terseyum tapi terkadang juga membuat kita terus merenungi apa yang terjadi setelah cinta itu muncul..
cinta membuat kita terhenyak dan terbangun dari mimpi akan kehidupan yang tenang, karena cinta hidup kita selalu gundah. apakah kita harus menjaga jarak dari cinta atau mengubungkan hati dan pikiran kita untuk cinta?

tips untuk membuat "cinta" tunduk dan diam dalam genggaman :

  • kenali dirimu sendiri, dengan kamu mengnali dirimu, kamu akan tahu seberapa besar kamu membutuhkan cinta.
  • pastikan batas antara cinta dan nafsu, jangan biarkan nafsu memakai jubah cinta dan begitupula sebaliknya.
  • berikan ruang tersendiri dalam kehidupanmu untuk cinta
  • selalu melihat dari sisi yang berbeda apabila cinta membuat dirimu gundah.
  • tentukan ssikap apakah cinta itu harus kamu genggam atau kamu lepas.

Makna Gereja

1. Asal kata
Sampai sekarang kita sering menggunakan kata Gereja yang menunjuk pada sekumpulan orang beragama (kristiani) tertentu; atau mengacu pada gedung tertentu yang digunakan untuk beribadat oleh orang kristiani tertentu pula. Kata Gereja ini sendiri berasal dari kata Portugsi ‘igreja’ yang di-indonesiakan dengan menghilangkan hurup ‘i’ sebagai mana sering terjadi dalam perpindahan bahasa. ‘Igreja’ sendiri berkaitan dengan kata ‘Iglesia’ (Spanyol) dan ‘Eglise’ (Prancis) serta ‘Ecclesia’ (Latin) sampai ke ‘Ekklesia’ (Yunani) dengan perubahan huruf hidup serta huruf mati sedikit seturut kesamaan daerah artikulasi namun tanpa perubahan arti.
Secara etimologis, kata ‘ekklesia’ (Yunani) sendiri berarti siding, perkumpulan, perhimpunan, paguyuban pada umumnya (seperti di kampong, di kota atau negara). Dalam kosa kata aslinya, kata itu malah tidak dipergunakan untuk menunjuk pada ‘perkumpulan ibadat’. Dalam terjemahan alkitab bahasa Yunani, kata ‘ekklesia’ secara khusus hanya dipakai sebagai terjemahan kata Ibrani ‘Qahal’.
Dalam Kejadian, Imamat dan Bilangan, ‘qahal’ disalin dengan kata ‘syonagoge’(sinagoga). ‘Qahal’ menunjuk pada suatu perhimpunan orang untuk kepentingan tugas militer, pertemuan politik atau keputusan pengadilan mau pun ibadat. Kata ‘syonagoge’ biasanya berarti perkumpulan, tempat perkumpulan, panen dan dapat juga pengumpulan prajurit.
Dalam Perjanjian Baru, kata ‘ekklesia’ dipakai Paulus untuk menunjuk pada orang-orang yang terpilih dalam Allah. Yohanes menulis tentang ‘ekklesia’ yang menunjuk pada paguyuban orang, yang terlah tumbuh dan berhimpun di suatu tempat. Sampai akhirnya, kata ‘Ekklesia’ yang kemudian menjadi Gereja dipergunakan untuk kelompok orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Penggunaan itu saat-saat sesudah Salib dan Kebangkitan Yesus Kristus (Dalam tulisan-tulisan, penggunaan kata gereja dengan ‘g’ kecil, menunjuk pada gedung ibadat orang kristiani).


2. Gereja Sebagai Umat Allah
Istilah ‘Umat Allah’ sudah digunakan dalam Perjanjian Lama, yang dimunculkan dan dihidupkan kembali oleh Konsili Vatikan II. Gereja sebagai ‘Umat Allah’ dimunculkan kembali, mungkin karena sudah terlalu lama Gereja menjadi terlalu hierarkis, didominasi oleh kaum rohaniwan dan awam yang adalah mayoritas dalam Gereja agak terdesak dan terpinggir.
Gelar “Umat Allah” menolak suatu klerikalisasi dalam Gereja. Jika Gereja secara mendasar disebut sebagai Umat Allah maka secara mendasar pula diakui bahwa kesamaan segala anggota harus diutamakan lebih dari pada perbedaan menurut panggilan, kharisma atau tugas.
Semua orang beriman menjadi “umat pilihan”, “umat yang kudus”, “imamat rajawi”.

Gagasan Umat Allah yang menurut Dokumen Konsili Vatikan II dalam Lumen Gentium yang mengungkapkan misteri Gereja itu sendiri, merupakan suatu kritik atas kecenderungan zaman dahulu yang memandang kaum klerus sebagai Gereja dan kaum awam sebagai ‘laicus’ (anggota saja). ‘Laikos’ mendapat arti sebagai orang-orang yang tidak ditahbiskan, orang-orang yang tidak terpelajar. Arti yang demikian tidak terdapat dalam Perjanjian Baru. Laos menurut Perjanjian Baru justru merumuskan kesatuan seluruh bangsa yang suci itu. Barulah sejak abad ke 3 (zamannya Kaisar Constantinus Agung) muncul perbedaan antara ‘clerici’ dan ‘laici’.


Dengan paham Gereja sebagai ‘Umat Allah’, diakui kembali kesamaan martabat dan peranan semua anggota Gereja.
Semua anggota Gereja memiliki martabat yang sama, hanya berbeda dalam hal fungsi. Artinya bahwa tentu saja di dalam Umat Allah yang baru terdapat perbedaan-perbedaan yaitu aneka ragam kharisma, pelayanan-pelayanan, tugas-tugas dan jabatan-jabatan (diakon, imam, dan uskup). Toh betapa pun pentingnya perbedaan-perbedaan itu, sifatnya hanya sekunder saja. Meskipun ada jabatan (diakon, imam atau uskup) atau kedudukan seseorang, tetaplah ada hal-hal yang sama bagi semua orang kristiani yakni hal yang menentukan keselamatan yaitu iman, pengharapan dan cintanya pada Tuhan. Dan yang terpenting juga adalah bahwa ada konsekuensi jika Gereja dikatakan sebagai ‘Umat Allah’.

Konsekuensinya adalah umat juga terlibat dalam hidup menggereja. Umat menyadari dan menghayati persatuannya dengan umat lain karena orang tidak dapat menghayati kehidupan imannya secara individu saja. Kemudian setiap orang beriman harus aktif dalam kehidupan mengumat, menggunakan segala kharisma, karunia, dan fungsi yang dipercayakan kepadanya untuk kepentingan dan misi Gereja di tengah masyarakat. Semua bertanggungjawab dalam hidup dan misi Gereja. Umat pun akhirnya menjadi partner hierarki dan bukan hanya sebagai pelengkap saja.

Saat-saat Indah

Terkadang ada saat-saat dalam hidup
ketika engkau merindukan seseorang begitu dalam, hingga engkau ingin mengambilnya dari angan-anganmu, lalu memeluknya erat-erat!

Jangan percaya penglihatan; penglihatan dapat menipu.
Jangan percaya kekayaan; kekayaan dapat sirna.

Percayalah pada dia yang dapat membuatmu tersenyum,
sebab hanya senyumlah yang dibutuhkan
untuk mengubah hari gelap menjadi terang.
Carilah dia, yang membuat hatimu tersenyum.


Semoga engkau punya cukup kebahagiaan untuk membuatmu tersenyum,
cukup pencobaanuntuk membuatmu kuat,
cukup penderitaan untuk tetap menjadikanmu manusiawi,
dan cukup pengharapan untuk menjadikanmu bahagia.

Mereka yang paling berbahagia tidaklah harus
memiliki yang terbaik dari segala sesuatu;
mereka hanya mengoptimalkan
segala sesuatu yang datang dalam perjalanan hidup mereka.

Masa depan yang paling gemilang akan selalu dapat
diraih dengan melupakan masa lalu yang kelabu;
engkau tidak akan dapat maju dalam hidup hingga
engkau melepaskan segala kegagalan dan sakit hatimu.

Ketika engkau dilahirkan, engkau menangis
sementara semua orang di sekelilingmu tersenyum.
Jalani hidupmu sedemikian rupa, hingga pada akhirnya
engkaulah satu-satunya yang tersenyum
sementara semua orang di sekelilingmu menangis.
Kirimkan pesan ini kepada mereka yang berarti bagimu
(aku baru saja melakukannya);
kepada mereka yang menyentuh hidupmu dengan suatu atau lain cara;
kepada mereka yang membuatmu tersenyum ketika engkau sungguh membutuhkannya;
kepada mereka yang membuatmu melihat
sisi baik dari segala hal ketika engkau jatuh;
kepada mereka yang persahabatannya engkau hargai;
kepada mereka yang begitu berarti dalam hidupmu.

Ijinkan Aku Menyayangimu
By : Iwan Fals

Andai kau ijinkan,

walau sekejap memandang

Kubuktikan padamu,

aku memiliki rasa

* Cinta yang kupendam,

tak sempat aku tanyakan

Karena kau t’lah memilih,

menutup pintu hatimu

Ijinkan aku membuktikan

Inilah sesungguhnya rasa

Ijinkan aku menyayangimu

Sayangku… oh… oh…

Dengarkanlah isi hatiku

Cintaku… oh… oh…

Dengarkanlah isi hatiku

** Bila cinta tak menyatukan kita

Bila kita tak mungkin bersama

Ijinkan aku tetap menyayangimu

Aku sayang padamu

Ijinkan aku membuktikan


Ini dia seseorang yang tangguh di lapangan cocok untuk dicontoh sebagai seorang penjaga gawang yang tanggung buat gw. Gianluigi Buffon adalah pemotivator gw selama gw berlatih menjadi seorang penjaga gawang.

Jumat, 04 Juni 2010

Ciri-ciri Orang Yang Berfikir Positif

Semua orang yang berusaha meningkatkan diri dan ilmu pengetahuannya pasti tahu bahwa hidup kan lebih mudah dijalani bila kita selalu berpikir positif. Tapi, bagaimana melatih diri supaya pikiran positiflah yang 'beredar' di kepala kita, tak banyak yang tahu. Oleh karena itu, sebaiknya kita kenali saja dulu ciri-ciri orang yang berpikir positif dan mulai mencoba meniru jalan pikirannya.

1. Melihat masalah sebagai tantangan

Bandingkan dengan orang yang melihat masalah sebagai cobaan hidup yang terlalu berat dan bikin hidupnya jadi paling sengsara sedunia.

2. Menikmati hidupnya

Pemikiran positif akan membuat seseorang menerima keadaannya dengan besar hati, meski tak berarti ia tak berusaha untuk mencapai hidup yang lebih baik.

3. Pikiran terbuka untuk menerima saran dan ide

Karena dengan begitu, boleh jadi ada hal-hal baru yang akan membuat segala sesuatu lebih baik.

4. Mengenyahkan pikiran negatif segera setelah pikiran itu terlintas di benak

Memelihara' pikiran negatif lama-lama bisa diibaratkan membangunkan singa tidur. Sebetulnya tidak apa-apa, ternyata malah bisa menimbulkan masalah.

5. Mensyukuri apa yang dimilikinya

Dan bukannya berkeluh-kesah tentang apa-apa yang tidak dipunyainya.

6. Tidak mendengarkan gosip yang tak menentu

Sudah pasti, gosip berkawan baik dengan pikiran negatif. Karena itu, mendengarkan omongan yang tak ada juntrungnya adalah perilaku yang dijauhi si pemikir positif.

7. Tidak bikin alasan, tapi langsung bikin tindakan

Pernah dengar pelesetan NATO (No Action, Talk Only), kan ? Nah, mereka ini jelas bukan penganutnya. NARO (No Action Review Only), NADO (No Action Dream Only), NATO (No Action Talk Only), NACO (No Action Concept Only), NABO (No Action Briefing Only), NAMO (No Action Meeting Olny), NASO (No Acton Strategy Only)

8. Menggunakan bahasa positif

Maksudnya, kalimat-kalimat yang bernadakan optimisme, seperti "Masalah itu pasti akan terselesaikan," dan "Dia memang berbakat."

9. Menggunakan bahasa tubuh yang positif

Di antaranya adalah senyum, berjalan dengan langkah tegap, dan gerakan tangan yang ekspresif, atau anggukan. Mereka juga berbicara dengan intonasi yang bersahabat, antusias, dan 'hidup'.

10. Peduli pada citra diri

Itu sebabnya, mereka berusaha tampil baik. Bukan hanya di luar, tapi juga di dalam.

Rabu, 26 Mei 2010

"Hanya Impian dan Penantian"


entah kenapa

hati ini merasa kehilangan

akan sesosok kepribadian

yang begitu lembut

yang menemani dalam kesendirian

yang menghangatkan dikala hati membeku

hari-hari dalam kebersamaan

mungkinkah hanya tinggal kenangan belaka

canda tawa bersamamu

kini hanya penantian

tutur sapa dengan dirimu

kini hanyalah impian semata

jauh tatapan untuk bertemu

jauh kata untuk menyapa

walau jarak membentang menghalangi
Hidup Ini bagaikan goresan sebuah gambar, kalau tintanya tidak bagus maka akan mudah luntur, begitu juga dengan diri ini, jika tidak kuat dan mampu untuk bertahan maka kita akan tersingkir dalan kerasnya kehidupan ini.